DOSEN : Mulyadi, SKM.,M.Kes
MATA
KULIAH : TATA GRAHA
PENGUKURAN TINGKAT KEPADATAN LALAT
DENGAN
MENGGUNAKAN
FLY GRILL
DISUSUN
OLEH :
HENDRA
RURU
PO.71.3.221.13.1.020
Tingkat
II.A
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
TAHUN AJARAN 2015/2016
PRODI DIII
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatNya-lah sehingga kita dapat menyelesaikan Laporan Tentang Pengukuran Tingkat Kepadatan Lalat yang ada disekitar Perumahan Dosen ini dengan baik. Walaupun sederhana keadaannya, namun diharapkan agar dapat memberi mamfaat bagi kita semua.
Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini
masih banyak kekurangan dan kesalahan yang terjadi baik dalam bentuk penulisan
kata-kata maupun kalimat yang kurang baku, maka dari itu saran dan kritik
sangat kami harapkan demi kesempurnaannya laporan ini. Karena kami manusia
biasa yang tidak luput dari kesalahan.
Demikianlah laporan yang kami yang susun ini semoga
bermamfaat bagi kita semua, atas perhatiannya kami mengucapkan terima kasih.
Makassar,10
Juni 2015
Hendra Ruru
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lalat merupakan salah satu insekta
(serangga) yang termasuk ordo Dipthera, yaitu insekta yang mempunyai
sepasang sayap berbentuk membran. Lalat mempunyai sifat kosmopolitan, artinya
kehidupan lalat dijumpai merata hampir diseluruh permukaan bumi. Diperkirakan
diseluruh dunia terdapat lebih kurang 85.000 jenis lalat, tetapi semua jenis
lalat terdapat di Indonesia. Jenis lalat yang paling banyak merugikan manusia
adalah jenis lalat rumah (Musca domestica), lalat hijau (Lucilia sertica),
lalat biru (Calliphora vomituria) dan lalat latrine (Fannia canicularis). Lalat
juga merupakan spesies yang berperan dalam masalah kesehatan masyarakat yaitu
sebagai vektor penularan penyakit saluran pencernaan. Vektor
adalah arthropoda yang dapat memindahkan atau menularkan agent
infection dari sumber infeksi kepada host yang rentan (Kusnoputranto,
2000).
Penularan penyakit terjadi secara
mekanis, dimana bulu–bulu badannya, kaki-kaki serta bagian tubuh yang lain dari
lalat merupakan tempat menempelnya mikroorganisme penyakit yang dapat berasal
dari sampah, kotoran manusia, dan binatang. Bila lalat tersebut hinggap ke
makanan manusia, maka kotoran tersebut akan mencemari makanan yang akan oleh
manusia sehingga akhirnya akan timbul gejala sakit pada manusia yaitu sakit
pada bagian perut serta lemas. Penyakit-penyakit yang ditularkan oleh lalat
antara lain disentri, kolera, thypus perut, diare dan lainnya yang
berkaitan dengan kondisi sanitasi lingkungan yang buruk (Depkes, 2001).
Upaya untuk menurunkan populasi lalat adalah
sangat penting, mengingat dampak yang ditimbulkan. Untuk itu sebagai salah satu
cara penilaian baik buruknya suatu lokasi adalah dilihat dari angka kepadatan lalatnya.
Dalam menetukan kepadatan lalat, pengukuran terhadap populasi lalat dewasa
tepat dan biasa diandalkan daripada pengukuran populasi larva lalat.
Lalat merupakan species yang berperan dalam masalah
kesehatan masyarakat. Ancaman lalat mulai diperhitungkan terutama setelah
timbulnya masalah sampah yangmerupakan dampak negatif dari pertambahan
penduduk. Sampah yang tidak dikelola dengan baik akan mengundang lalat untuk
datang dan berkontak dengan manusia. Dengan didorong oleh rendahnya tingkat
pengetahuan masyarakat akan higiene dan sanitasi, pada akhirnya lalat akan
menimbulkan masalah kesehatan masyarakat secara luas baik dari segi estetika
sampai penularan penyakit.
Penularan penyakit oleh lalat dapat terjadi melalui
semua bagian dari tubuh lalat seperti : bulu badan, bulu pada anggota gerak,
muntahan serta faecesnya. Upaya pengendalian penyakit menular tidak terlepas
dari usaha peningkatan kesehatan lingkungan dengan salah satu kegiatannya
adalah pengendalian vektor penyakit
termasuk lalat. Saat ini terdapat
sekitar ± 60.000 – 100.000 spesies lalat, tetapi tidak semua species perlu
diawasi karena beberapa diantaranya tidak berbahaya terhadap kesehatan
masyarakat.
B. Tujuan
1.
Untuk Memahami cara
Pengukuran Tingkat Kepadatan Lalat
2.
Untuk Mengetahui
Berapa jumlah rata – rata Tingkat Kepadatan Lalat yang ada disekitar Perumahan
Dosen
3.
Untuk Mengetahui
cara Pengendalian Lalat
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Lalat
Lalat merupakan salah satu insekta
(serangga) yang termasuk ordo Dipthera, yaitu insekta yang mempunyai
sepasang sayap berbentuk membran. Lalat mempunyai sifat kosmopolitan, artinya
kehidupan lalat dijumpai merata hampir diseluruh permukaan bumi. Diperkirakan
diseluruh dunia terdapat lebih kurang 85.000 jenis lalat, tetapi semua jenis
lalat terdapat di Indonesia. Jenis lalat yang paling banyak merugikan manusia
adalah jenis lalat rumah (Musca domestica), lalat hijau (Lucilia sertica),
lalat biru (Calliphora vomituria) dan lalat latrine (Fannia canicularis). Lalat
juga merupakan spesies yang berperan dalam masalah kesehatan masyarakat yaitu
sebagai vektor penularan penyakit saluran pencernaan.
Fly Grill adalah alat yang digunakan untuk mengukur
kepadatan lalat, membutuhkan waktu permenit atau perdetik. Buat warna putih
pembuangan sampah atau pembuangan air 3-5 pengamanan pengembangan( < 50
Padat) (>20 sangat Padat.) pengendalian = (Lem, Lilin,kipas Air).
Pengendalian alat kimia : brinting atau penyemprotan.
B.
Siklus Hidup
Lalat
Dalam kehidupan lalat dikenal ada 4 (empat) tahapan
yaitu mulai dari telur, larva, pupa dan dewasa. Lalat berkembang biak dengan
bertelur, berwarna putih dengan ukuran lebih kurang 1 mm panjangnya. Setiap
kali bertelur akan menghasilkan 120–130 telur dan menetas dalam waktu 8–16 jam
.Pada suhu rendah telur ini tidak akan menetas (dibawah 12 –13 º C). Telur yang
menetas akan menjadi larva berwarna putih kekuningan, panjang 12-13 mm. Akhir
dari phase larva ini berpindah tempat dari yang banyak makan ke tempat yang
dingin guna mengeringkan tubuhnya, Setelah itu berubah menjadi kepompong yang
berwarna coklat tua, panjangnya sama dengan larva dan tidak bergerak. Phase ini
berlangsung pada musim panas 3-7 hari pada temperatur 30–35 º C.
Kemudian akan keluar lalat muda dan sudah dapat
terbang antara 450–900 meter, Siklus hidup dari telur hingga menjadi lalat
dewasa 6-20 hari Lalat dewasa panjangnya lebih kurang ¼ inci, dan mempunyai 4
garis yang agak gelap hitam dipunggungnya.
Beberapa hari kemudian sudah siap untuk berproduksi,
pada kondisi normal lalat dewasa betina dapat bertelur sampai 5 (lima) kali.
Umur lalat pada umumnya sekitar 2-3 minggu, tetapi pada kondisi yang lebih
sejuk biasa sampai 3 (tiga) bulan Lalat tidak kuat terbang menantang arah angin,
tetapi sebaliknya lalat akan terbang jauh mencapai 1 kilometer.
C.
Tempat Perindukan Lalat
Tempat
yang disenangi adalah tempat yang basah seperti sampah basah, kotoran binatang,
tumbuh-tumbuhan busuk, kotoran yang menumpuk secara kumulatif (dikandang).
a. Kotoran
Hewan
Tempat perindukan lalat
rumah yang paling utama adalah pada kotoran hewan yang lembab dan masih baru
(normal nya lebih kurang satu minggu).
b. Sampah
dan sisa makanan dari hasil olahan
Disamping lalat suka
hinggap juga berkembang baik pada sampah, sisa makanan, buahbuahan yang ada
didalam rumah maupun dipasar.
c. Kotoran
Organik
Kotoran organik seperti
kotoran hewan, kotoran manusia. Sampah dan makanan ikan adalah merupakan tempat
yang cocok untuk berkembang biaknya lalat.
d. Air Kotor
Lalat Rumah berkembang
biak pada pemukaan air kotor yang terbuka.
D.
Pola Penyebaran Lalat
1. Pola Distribusi
Musca domestica dan Chrysomya megachepala adalah lalat
yang tersebar secara kosmopolitan dan bersifat sinantropik yang artinya lalat
ini mempunyai hubungan ketergantungan yang tinggi dengan manusia karena zat-zat
makanan yang dibutuhkan lalat sebagian besar ada pada makanan manusia. Lalat
lebih aktif pada tempat yang terlindung dari cahaya daripada tempat yang
langsung terkena cahaya matahari. Penyebaran yang luas dari kedua jenis lalat
ini dimungkinkan karena daya adaptasinya yang tinggi. Kepadatan lalat di suatu
daerah, sangat dipengaruhi oleh: tempat perindukan, cahaya matahari, temperatur
dan kelembaban. Kepadatan lalat akan tinggi jika temperatur antara 20-25 C.
Populasi menurun apabila temperatur > 450C dan < 100C.
Pada temperatur yang sangat rendah, lalat tetap hidup dalam kondisi dorman pada
stadium dewasa atau pupa. Kebiasaan & distribusi lalat pada Siang hari akan
berada di sekitar tempat makan & tempat perindukan di mana juga terjadi
perkawinan & istirahat. Penyebaran dipengaruhi oleh reaksinya terhadap
cahaya, temperatur, kelembaban, textur dan warna permukaan yang disenangi untuk
istirahat. Aktivitas lalat: bertelur, berkawin, makan dan terbang, terhenti
pada temperature di bawah 15oC. Lalat umumnya aktif pada kelembaban
udara yang rendah. Pada temperatur di atas 20oC lalat akan berada di
luar rumah, di tempat yang ternaung dekat dengan udara bebas. Pada waktu tidak
makan lalat akan istirahat pada permukaan horisontal atau pada kabel yang
membentang atau tempat-tempat yang vertikal dan pada atap di dalam rumah
khususnya malam hari.
2. Ketahanan Hidup
Tergantung
pada musim dan temperatur: Lalat dewasa hidup 2-4 minggu pada musim panas dan
lebih lama pada musim dingin yaitu bisa mencapai 3 bulan, mereka paling aktif
pada suhu 32,50C dan akan mati pada suhu 450C. Lalat
melampaui musim dingin (over wintering) sebagai lalat dewasa, dan berkembang
biak di tempat-tempat yang relatif terlindung seperti kandang ternak dan
gudang-gudang. Pada stadium telur biasanya tidak tahan terhadap suhu yang
ekstrim dan akan mati bila berada dibawah 50C dan di atas 400C.
Lamanya tahap instar larva sangat tergantung pada suhu dan kelembaban
lingkungan.Pada suhu -20C larva dapat bertahan beberapa hari , di
bawah suhu 100C larva tidak dapat berkembang menjadi pupa.
E.
Ekologi
Tentang Lalat
Dengan
memahami ekologi lalat kita dapat menjelaskan peranan lalat sebagai karier
penyakit dan dapat pula membantu kita dalam perencanaan pengawasan. Lalat
dewasa aktif pada siang hari dan selalu berkelompok. Pada malam hari biasanya
istirahat walaupun mereka dapat beradaptasi dengan cahaya lampu yang lebih
terang.
1. Tempat
peristirahatan
Pada Waktu hinggap
lalat mengeluarkan ludah dan tinja yang membentuk titik hitam. Tanda-tanda ini
merupakan hal yang penting untuk mengenal tempat lalat istirahat. Pada siang
hari lalat tidak makan tetapi beristirahat di lantai dinding, langit-langit,
rumputrumput dan tempat yang sejuk. Juga menyukai tempat yang berdekatan dengan
makanan dan tempat berbiaknya, serta terlindung dari angin dan matahari yang
terik. Didalam rumah, lalat istirahat pada pinggiran tempat makanan, kawat
listik dan tidak aktif pada malam hari. Tempat hinggap lalat biasanya pada
ketinggian tidak lebih dari 5 (lima) meter.
2. Fluktuasi Jumlah lalat
Lalat merupakan
serangga yang bersifat fototropik yaitu menyukai cahaya. Pada malam hari tidak
aktif, namun dapat aktif dengan adanya sinar buatan. Efek sinar pada lalat
tergantung sepenuhnya pada temperatur dan kelembaban jumlah lalat akan
meningkat jumlahnya pada temperatur 20 º C – 25 º C dan akan berkurang
jumlahnya pada temperatur < 10 º C atau > 49 º C serta kelembaban yang
optimum 90 %.
F.
Teknik
Pengendalian dan Pemberantasan Lalat
1. Perbaikan
Hygiene dan sanitasi lingkungan
Perbaikan Hygiene dan
sanitasi lingkungan merupakan langkah awal yang sangat penting dalam usaha
menganggulangi berkembangnya populasi lalat baik dalam lingkungan peternakan
maupun pemukiman. Selain murah dan sederhana juga efektif serta tidak
menimbulkan efek-efek samping yang membahayakan lingkungan (Sitanggang, 2001).
a. Mengurangi
atau menghilangkan tempat perndukan lalat.
b. Kandang
ternak
c. Kandang
harus dapat dibersihkan
d. Lantai
kandang harus kedap air, dan dapat disiram setiap hari
e. Terdapat
saluran air limbah yang baik (HAKLI, 2009).
2. Kandang
ayam dan burung
a. Bila
burung/ternak berada dalam kandang dan kotorannya terkumpul disangkar, kadang
perlu dilengkapi dengan ventilasi yang cukup agar kandang tetap kering.
b. Kotoran burung/ternak dapat dikeluarkan dari
sangkar dan secara interval (disarankan setiap hari) dibersihkan (DEPKES,
1992).
3. Timbunan
kotoran ternak
Timbunan pupuk kandang
yang dibuang ke permukaan tanah pada temperatur tertentu dapat menjadi tempat
perindukan lalat. Sebagai upaya pengendalian, kotoran sebaiknya diletakkan pada
permukaan yang keras/semen yang dikelilingi selokan agar lalat dan pupa tidak
bermigrasi ke tanah sekelilingnya. Pola penumpukan kotoran sacara menggunung
dapat dilakukan untuk mengurangi luas permukaan. Tumpukan kotoran sebaiknya
ditutupi plastik untuk mencegah lalat meletakkan telurnya dan dapat membunuh
larva karena panas yang diproduksi oleh tumpukan kotoranakibat proses
fermentasi (HAKLI, 2009).
4. Kotoran Manusia
Jamban yang memenuhi
syarat kesehatan sangat diperlukan guna mencegah perkembangbiakan lalat pada
tempat-tempat pembuangan faces. Jamban setidaknya menggunakan model leher angsa
dan berseptic tank. Selain itu, pada pipa ventilasi perlu dipasang kawat kasa
guna mencegah lalat masuk dan berkembang biak di dalam septic tank (HAKLI,
2009).
Daerah-daerah
pengungsian merupakan daerah yang sangat potensial untuk tempat perindukan
lalat. Hal ini dikarenakan secara umum pada daerah tersebut jarang sekali
ditemukan jamban-jamban yang memenuhi syarat kesehatan, bahkan banyak
diantaranya yang hanya menggunakan lahan terbuka sebagai jamban. Sebaiknya,
bila fasilitas jamban tidak ada/tidak sesuai, masyarakat pengungsi dapat
melakukan buang air besar pada jarak ± 500 meter dengan arah angin yang tidak
mengarah ke dekat tempat perindukan atau timbunan makanan dan 30 meter dari
sumber air bersih dengan membuat lubang dan menutupnya secara berlapis agar
tidak menimbulkan bau yang dapat merangsang lalat unutk datang dan berkembang
biak (DEPKES, 1992).
5. Sampah
basah dan sampah organic
Pengumpulan,
pengangkutan dan pembuangan sampah yang dikelola dengan baik dapat
menghilangkan media perindukan lalat. Bila sistem pengumpulan dan pengangkutan
sampah dari rumah tidak ada, sampah dapat dibakar atau dibuang ke lubang
sampah, dengan catatan bahwa setiap minggu sampah yang dibuang ke lubang sampah
harus ditutup dengan tanah. Dalam cuaca panas, larva lalat ditempat sampah
dapat menjadi pupa hanya dalam waktu 3 –4 hari (DEPKES, 1992).
Membersihkan sisa-sisa
sampah yang ada di dasar tong sampah merupakan hal yang penting karena lalat
masih dapat berkembang biak pada tempat tersebut. Pembuangan sampah akhir pada
TPA yang terbuka perlu dilakukan dengan pemadatan sampah terlebih dahulu dan
ditutup setiap hari dengan tanah setebal 15 – 30 cm. Hal ini bertujuan untuk
penghilangan tempat perkembang biakan lalat. Lokasi tempat pembuangan akhir
sampah adalah harus berjarak beberapa kilometer dari rumah penduduk(DEPKES,
1992).
G.
Fly Grill
Fly Grill adalah alat yang digunakan untuk mengukur
kepadatan lalat, membutuhkan waktu permenit atau perdetik. Buat warna putih
pembuangan sampah atau pembuangan air 3-5 pengamanan pengembangan( < 50
Padat) (>20 sangat Padat.) pengendalian = (Lem, Lilin,kipas Air).
Pengendalian alat kimia : brinting atau penyemprotan.
Lalat menyukai tempat - tempat yang berbau menyengat
dan tempat yang cukup lembab. Sedangkanm warnayang disukai lalat adalah warna
natural seperti warna coklat pada batang kayu dan warna hijau pada buah atau
sayur segar.
BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Jenis Praktikum
Adapun jenis praktikum yang dilakukan adalah Pengukuran
Kepadatan Lalat dengan menggunakan Fly Grill.
B. Waktu dan Lokasi
Hari
/ Tanggal : Selasa,11 Mei 2015
Waktu : 13.00 - Selesai
Tempat : Kampus Kesehatan Lingkungan
(Sekitar Perumahan Dosen)
C. Alat
-
Alat
1. Fly Grill
2. Hand Counter
3. Hygrothermometer (Suhu dan
Kelembaban)
4. Stopwatch
5. Kamera
6. ATK
D. Prosedur Kerja
1. Siapkan alat yang akan digunakan
2. Letakkan Fly Grill secara mendatar
pada tempat yang sudah ditentukan
3. Pasang hygrothermometer dekat dengan
Fly Grill
4. Kemudian hitung berapa jumlah lalat
yang hinggap pada fly grill tersebut
5. Hitung selama 30 detik dengan
menggunakan hand counter
6. Setelah selesai pindah ke tempat
yang lain dengan jarak ± 10 meter dan lakukan selama 10 kali pengukuran
7. Setelah 30 detik pertama, catat
hasil dan jumlah lalat yang hinggap pada fly grill tersebut pada kertas blanko
yang telah disediakan, dan lakukan hal tersebut sebanyak 10 kali perhitungan
8. Kemudian ambil sebanyak 5 hasl
perhitungan kepadatan lalat tertinggi, kemudian dirata-ratakan
9. Hasil rata-rata adalah angka
kepadatan lalat dengan satuan ekor per block grill
10. Untuk kelengkapan informasi, perlu
juga diadakan pengukuran suhu dan kelemababan untuk menghasilkan pengukuran
yang optimal.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil
Dari praktikum pengukuran tingkat
kepadatan lalat maka hasil yang kami dapatkan adalah sebagai berikut :
|
NO
|
TITIK / LOKASI
|
HASIL PENGUKURAN
|
KET
|
|||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
|||
|
1
|
TITIK 1
|
1
|
3
|
2
|
5
|
4
|
3
|
3
|
2
|
2
|
1
|
|
|
2
|
TKTIK 2
|
2
|
4
|
3
|
1
|
3
|
4
|
1
|
1
|
2
|
1
|
|
|
3
|
TITIK 3
|
3
|
4
|
1
|
2
|
4
|
1
|
3
|
2
|
5
|
1
|
|
Keterangan :
|
Jadi Nilai Rata –
Rata Tingkat Kepadatan Lalat yang ada Di Sekitar Perumahan Dosen
Adalah 4 ekor / Block Grill
|
Titik 2
= 3.2
B.
Pembahasan
Berdasarkan praktikum tentang
Pengukuran Kepadatan Lalat yang kami lakukan dapat dianlisa bahwa lalat yang
berada di sekitar Perumahan Dosen rata –rata 4 ekor / block grill jadi lalat
tersebut masuk dalam tingkat kepadatan lalat yang sedang. Lalat berada
disekitar Perumahan Dosen karena kondisi lingkungan yang tidak bersih karena
dekat dengan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) sehingga lalat suka berkerumun
disitu.
Disamping dekat dengan tempat sampah
sekitar perumahan Dosen juga kondisi lingkungannya dalam keadaan yang lembab
dimana kelembaban tersebut adalah ±60% karena lalat itu suka berada di tempat
yang lembab.
Karena lalat di sekitar Perumahan
Dosen tergolong dalam tingkat kepadatan yang sedang maka perlu dilakukan cara
pengendalian untuk mengurangi tingkat kepadatan lalat adalah sebagai berikut :
1. Perbaikan
Hygiene dan sanitasi lingkungan
Perbaikan Hygiene dan
sanitasi lingkungan merupakan langkah awal yang sangat penting dalam usaha
menganggulangi berkembangnya populasi lalat baik dalam lingkungan peternakan
maupun pemukiman. Selain murah dan sederhana juga efektif serta tidak
menimbulkan efek-efek samping yang membahayakan lingkungan.
a. Mengurangi
atau menghilangkan tempat perndukan lalat
b. Kandang
ternak
c. Kandang
harus dapat dibersihkan
d. Lantai
kandang harus kedap air, dan dapat disiram setiap hari
e. Terdapat
saluran air limbah yang baik (HAKLI, 2009).
2. Kandang
ayam dan burung
a. Bila
burung/ternak berada dalam kandang dan kotorannya terkumpul disangkar, kadang
perlu dilengkapi dengan ventilasi yang cukup agar kandang tetap kering.
b. Kotoran
burung/ternak dapat dikeluarkan dari sangkar dan secara interval (disarankan
setiap hari) dibersihkan (DEPKES, 1992).
3. Timbunan
kotoran ternak
Timbunan pupuk kandang
yang dibuang ke permukaan tanah pada temperatur tertentu dapat menjadi tempat
perindukan lalat. Sebagai upaya pengendalian, kotoran sebaiknya diletakkan pada
permukaan yang keras/semen yang dikelilingi selokan agar lalat dan pupa tidak
bermigrasi ke tanah sekelilingnya. Pola penumpukan kotoran sacara menggunung
dapat dilakukan untuk mengurangi luas permukaan. Tumpukan kotoran sebaiknya
ditutupi plastik untuk mencegah lalat meletakkan telurnya dan dapat membunuh
larva karena panas yang diproduksi oleh tumpukan kotoranakibat proses
fermentasi (HAKLI, 2009).
4. Kotoran
Manusia
Jamban yang memenuhi
syarat kesehatan sangat diperlukan guna mencegah perkembangbiakan lalat pada
tempat-tempat pembuangan faces. Jamban setidaknya menggunakan model leher angsa
dan berseptic tank. Selain itu, pada pipa ventilasi perlu dipasang kawat kasa
guna mencegah lalat masuk dan berkembang biak di dalam septic tank (HAKLI,
2009).
5. Sampah
basah dan sampah organic
Pengumpulan,
pengangkutan dan pembuangan sampah yang dikelola dengan baik dapat
menghilangkan media perindukan lalat. Bila sistem pengumpulan dan pengangkutan
sampah dari rumah tidak ada, sampah dapat dibakar atau dibuang ke lubang sampah,
dengan catatan bahwa setiap minggu sampah yang dibuang ke lubang sampah harus
ditutup dengan tanah. Dalam cuaca panas, larva lalat ditempat sampah dapat
menjadi pupa hanya dalam waktu 3 –4 hari (DEPKES, 1992).
Membersihkan sisa-sisa sampah yang
ada di dasar tong sampah merupakan hal yang penting karena lalat masih dapat
berkembang biak pada tempat tersebut. Pembuangan sampah akhir pada TPA yang
terbuka perlu dilakukan dengan pemadatan sampah terlebih dahulu dan ditutup
setiap hari dengan tanah setebal 15 – 30 cm. Hal ini bertujuan untuk
penghilangan tempat perkembang biakan lalat. Lokasi tempat pembuangan akhir
sampah adalah harus berjarak beberapa kilometer dari rumah penduduk(DEPKES,
1992).
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari praktikum Pengukuran Tingkat Kepadatan
Lalat yang dilakukan di sekitar Perumahan Dosen maka dapat disimpulkan bahwa
cara pengukuran kepadatan lalat yaitu letakkan Fly Grill pada tempat yang sudah
ditentukan sebagai tempat pengukuran, kemudian hitung jumlah lalat yang hinggap
pada block grill dan hitung dalam waktu 30 detik dengan menggunakan hand
counter, lakukan pengukuran selama 10 kali.
Dan jumlah rata – rata tingkat
kepadatan lalat yang ada disekitar perumahan dosen adalah 4 ekor / block grill
dan tergolong dalam tingkat kepadatan sedang.
Maka dari itu cara pengendalian
lalat adalah
1. Perbaikan
Hygiene dan sanitasi lingkungan
Perbaikan Hygiene dan
sanitasi lingkungan merupakan langkah awal yang sangat penting dalam usaha menanggulangi
berkembangnya populasi lalat baik dalam lingkungan peternakan maupun pemukiman.
a. Mengurangi
atau menghilangkan tempat perndukan lalat
b. Kandang
ternak
c. Kandang
harus dapat dibersihkan
d. Lantai
kandang harus kedap air, dan dapat disiram setiap hari
e. Terdapat
saluran air limbah yang baik (HAKLI, 2009).
2. Kandang
ayam dan burung
a. Bila
burung/ternak berada dalam kandang dan kotorannya terkumpul disangkar, kadang
perlu dilengkapi dengan ventilasi yang cukup agar kandang tetap kering.
b. Kotoran
burung/ternak dapat dikeluarkan dari sangkar dan secara interval (disarankan
setiap hari) dibersihkan (DEPKES, 1992).
3. Timbunan
kotoran ternak
Timbunan pupuk kandang
yang dibuang ke permukaan tanah pada temperatur tertentu dapat menjadi tempat
perindukan lalat. Sebagai upaya pengendalian, kotoran sebaiknya diletakkan pada
permukaan yang keras/semen yang dikelilingi selokan agar lalat dan pupa tidak
bermigrasi ke tanah sekelilingnya. Pola penumpukan kotoran sacara menggunung
dapat dilakukan untuk mengurangi luas permukaan. Tumpukan kotoran sebaiknya
ditutupi plastik untuk mencegah lalat meletakkan telurnya dan dapat membunuh
larva karena panas yang diproduksi oleh tumpukan kotoranakibat proses
fermentasi (HAKLI, 2009).
4. Kotoran
Manusia
Jamban yang memenuhi
syarat kesehatan sangat diperlukan guna mencegah perkembangbiakan lalat pada
tempat-tempat pembuangan faces. Jamban setidaknya menggunakan model leher angsa
dan berseptic tank. Selain itu, pada pipa ventilasi perlu dipasang kawat kasa
guna mencegah lalat masuk dan berkembang biak di dalam septic tank (HAKLI,
2009).
5. Sampah
basah dan sampah organic
Pengumpulan,
pengangkutan dan pembuangan sampah yang dikelola dengan baik dapat
menghilangkan media perindukan lalat. Bila sistem pengumpulan dan pengangkutan
sampah dari rumah tidak ada, sampah dapat dibakar atau dibuang ke lubang sampah,
dengan catatan bahwa setiap minggu sampah yang dibuang ke lubang sampah harus
ditutup dengan tanah. Dalam cuaca panas, larva lalat ditempat sampah dapat
menjadi pupa hanya dalam waktu 3 –4 hari (DEPKES, 1992).
B.
Saran
Dari hasil praktikum Pengukuran
Tingkat Kepadatan Lalat maka saran kami adalah dalam pengukuran tersebut hasil
yang didapatkan yaitu rata – rata 4 ekor / block grill hal ini dipengaruhi
karena disekitar perumahan dosen kondisi lingkungan yang tidak bersih sehingga
lalat banyak, sebaiknya lingkungan harus bersih terutama tempat sampah harus
dalam kondisi tertutup agar lalat tidak ada.
DAFTAR PUSTAKA
Darjono. 2006. CP-bulletin Service:
Kontrol Lalat dalam Mencegah Penyebaran Penyakit. Edisi Februari 2006 nomor
74/tahunVII. POKPHAND
Departemen Kesehatan RI. 1992. Pedoman Tehnis
Pengendalian Lalat. Dit. Jen. PPM dan PLP, Depkes RI. Jakarta
HAKLI. 2009. Pengendalian Lalat.
http://www.hakli.org. Diakses tanggal 30 Maret 2011
Kartikasari. 2008. Dampak Vektor Lalat
Terhadap Kesehatan. Universitas Sumatera Utara.
jtptunimus-gdl-s1-2008-kartikasar-521-2-bab1 Diakses tanggal 1 April 2011
Santi, Devi Nuraini. 2001. Manajemen
Pengendalian Lalat. Fakultas Kedokteran. Universitas Sumatera Utara. 5
Halaman (Dipublikasikan)
http://kesling1.blogspot.com/2012/07/kepadatan-lalat.html
(Diakses tanggal 12 Juni 2015)
http://lingk-sehat.blogspot.com/2012/12/menghitung-kepadatan-lalat.html
(Diakses tanggal 12 Juni 2015)
http://wardana-sl.blogspot.com/2012/06/laporan-praktikum-pengukuran-kepadatan.html
(Diakses tanggal 13 Juni 2015)
http://kesmas-unsoed.com/2011/04/makalah-lalat-dan-pengendaliannnya.html
(dikases 13 Juni 2015)
Kusnoputranto, 2000. Pengendalian Vektor Lalat.
(Diakses tanggal 12 Juni 2015)