Senin, 15 Juni 2015

DOSEN                 : Mulyadi, SKM.,M.Kes
MATA KULIAH     : TATA GRAHA

PENGUKURAN TINGKAT KEPADATAN LALAT
DENGAN MENGGUNAKAN
 FLY GRILL

DISUSUN OLEH :
HENDRA RURU
PO.71.3.221.13.1.020
Tingkat II.A



KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
TAHUN AJARAN 2015/2016
PRODI DIII
KATA PENGANTAR

            Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatNya-lah sehingga kita dapat menyelesaikan Laporan Tentang Pengukuran Tingkat Kepadatan Lalat yang ada disekitar Perumahan Dosen ini dengan baik. Walaupun sederhana keadaannya, namun diharapkan agar  dapat memberi mamfaat bagi kita semua.
            Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih banyak kekurangan dan kesalahan yang terjadi baik dalam bentuk penulisan kata-kata maupun kalimat yang kurang baku, maka dari itu saran dan kritik sangat kami harapkan demi kesempurnaannya laporan ini. Karena kami manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan.
            Demikianlah laporan yang kami yang susun ini semoga bermamfaat bagi kita semua, atas perhatiannya kami mengucapkan terima kasih.




Makassar,10 Juni 2015
Penyusun
 



Hendra Ruru


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Lalat merupakan salah satu insekta (serangga) yang termasuk ordo Dipthera, yaitu insekta yang mempunyai sepasang sayap berbentuk membran. Lalat mempunyai sifat kosmopolitan, artinya kehidupan lalat dijumpai merata hampir diseluruh permukaan bumi. Diperkirakan diseluruh dunia terdapat lebih kurang 85.000 jenis lalat, tetapi semua jenis lalat terdapat di Indonesia. Jenis lalat yang paling banyak merugikan manusia adalah jenis lalat rumah (Musca domestica), lalat hijau (Lucilia sertica), lalat biru (Calliphora vomituria) dan lalat latrine (Fannia canicularis). Lalat juga merupakan spesies yang berperan dalam masalah kesehatan masyarakat yaitu sebagai  vektor penularan penyakit saluran pencernaan. Vektor adalah arthropoda yang dapat memindahkan atau menularkan agent infection dari sumber infeksi kepada host yang rentan (Kusnoputranto, 2000).
Penularan penyakit terjadi secara mekanis, dimana bulu–bulu badannya, kaki-kaki serta bagian tubuh yang lain dari lalat merupakan tempat menempelnya mikroorganisme penyakit yang dapat berasal dari sampah, kotoran manusia, dan binatang. Bila lalat tersebut hinggap ke makanan manusia, maka kotoran tersebut akan mencemari makanan yang akan oleh manusia sehingga akhirnya akan timbul gejala sakit pada manusia yaitu sakit pada bagian perut serta lemas. Penyakit-penyakit yang ditularkan oleh lalat antara lain disentri, kolera, thypus perut, diare dan lainnya yang berkaitan dengan kondisi sanitasi lingkungan yang buruk (Depkes, 2001).
 Upaya untuk menurunkan populasi lalat adalah sangat penting, mengingat dampak yang ditimbulkan. Untuk itu sebagai salah satu cara penilaian baik buruknya suatu lokasi adalah dilihat dari angka kepadatan lalatnya. Dalam menetukan kepadatan lalat, pengukuran terhadap populasi lalat dewasa tepat dan biasa diandalkan daripada pengukuran populasi larva lalat.
Lalat merupakan species yang berperan dalam masalah kesehatan masyarakat. Ancaman lalat mulai diperhitungkan terutama setelah timbulnya masalah sampah yangmerupakan dampak negatif dari pertambahan penduduk. Sampah yang tidak dikelola dengan baik akan mengundang lalat untuk datang dan berkontak dengan manusia. Dengan didorong oleh rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat akan higiene dan sanitasi, pada akhirnya lalat akan menimbulkan masalah kesehatan masyarakat secara luas baik dari segi estetika sampai penularan penyakit.
Penularan penyakit oleh lalat dapat terjadi melalui semua bagian dari tubuh lalat seperti : bulu badan, bulu pada anggota gerak, muntahan serta faecesnya. Upaya pengendalian penyakit menular tidak terlepas dari usaha peningkatan kesehatan lingkungan dengan salah satu kegiatannya adalah pengendalian vektor penyakit termasuk lalat. Saat ini terdapat sekitar ± 60.000 – 100.000 spesies lalat, tetapi tidak semua species perlu diawasi karena beberapa diantaranya tidak berbahaya terhadap kesehatan masyarakat.

B.     Tujuan
1.      Untuk Memahami cara Pengukuran Tingkat Kepadatan Lalat
2.      Untuk Mengetahui Berapa jumlah rata – rata Tingkat Kepadatan Lalat yang ada disekitar Perumahan Dosen
3.      Untuk Mengetahui cara Pengendalian Lalat









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Pengertian Lalat
Lalat merupakan salah satu insekta (serangga) yang termasuk ordo Dipthera, yaitu insekta yang mempunyai sepasang sayap berbentuk membran. Lalat mempunyai sifat kosmopolitan, artinya kehidupan lalat dijumpai merata hampir diseluruh permukaan bumi. Diperkirakan diseluruh dunia terdapat lebih kurang 85.000 jenis lalat, tetapi semua jenis lalat terdapat di Indonesia. Jenis lalat yang paling banyak merugikan manusia adalah jenis lalat rumah (Musca domestica), lalat hijau (Lucilia sertica), lalat biru (Calliphora vomituria) dan lalat latrine (Fannia canicularis). Lalat juga merupakan spesies yang berperan dalam masalah kesehatan masyarakat yaitu sebagai  vektor penularan penyakit saluran pencernaan.
Fly Grill adalah alat yang digunakan untuk mengukur kepadatan lalat, membutuhkan waktu permenit atau perdetik. Buat warna putih pembuangan sampah atau pembuangan air 3-5 pengamanan pengembangan( < 50 Padat) (>20 sangat Padat.) pengendalian = (Lem, Lilin,kipas Air). Pengendalian alat kimia : brinting atau penyemprotan.

B.     Siklus Hidup Lalat
Dalam kehidupan lalat dikenal ada 4 (empat) tahapan yaitu mulai dari telur, larva, pupa dan dewasa. Lalat berkembang biak dengan bertelur, berwarna putih dengan ukuran lebih kurang 1 mm panjangnya. Setiap kali bertelur akan menghasilkan 120–130 telur dan menetas dalam waktu 8–16 jam .Pada suhu rendah telur ini tidak akan menetas (dibawah 12 –13 º C). Telur yang menetas akan menjadi larva berwarna putih kekuningan, panjang 12-13 mm. Akhir dari phase larva ini berpindah tempat dari yang banyak makan ke tempat yang dingin guna mengeringkan tubuhnya, Setelah itu berubah menjadi kepompong yang berwarna coklat tua, panjangnya sama dengan larva dan tidak bergerak. Phase ini berlangsung pada musim panas 3-7 hari pada temperatur 30–35 º C.
Kemudian akan keluar lalat muda dan sudah dapat terbang antara 450–900 meter, Siklus hidup dari telur hingga menjadi lalat dewasa 6-20 hari Lalat dewasa panjangnya lebih kurang ¼ inci, dan mempunyai 4 garis yang agak gelap hitam dipunggungnya.
Beberapa hari kemudian sudah siap untuk berproduksi, pada kondisi normal lalat dewasa betina dapat bertelur sampai 5 (lima) kali. Umur lalat pada umumnya sekitar 2-3 minggu, tetapi pada kondisi yang lebih sejuk biasa sampai 3 (tiga) bulan Lalat tidak kuat terbang menantang arah angin, tetapi sebaliknya lalat akan terbang jauh mencapai 1 kilometer.

C.     Tempat Perindukan Lalat
Tempat yang disenangi adalah tempat yang basah seperti sampah basah, kotoran binatang, tumbuh-tumbuhan busuk, kotoran yang menumpuk secara kumulatif (dikandang).
a.       Kotoran Hewan
Tempat perindukan lalat rumah yang paling utama adalah pada kotoran hewan yang lembab dan masih baru (normal nya lebih kurang satu minggu).
b.      Sampah dan sisa makanan dari hasil olahan
Disamping lalat suka hinggap juga berkembang baik pada sampah, sisa makanan, buahbuahan yang ada didalam rumah maupun dipasar.
c.       Kotoran Organik
Kotoran organik seperti kotoran hewan, kotoran manusia. Sampah dan makanan ikan adalah merupakan tempat yang cocok untuk berkembang biaknya lalat.
d.       Air Kotor
Lalat Rumah berkembang biak pada pemukaan air kotor yang terbuka.

D.    Pola Penyebaran Lalat
1.      Pola Distribusi
Musca domestica dan Chrysomya megachepala adalah lalat yang tersebar secara kosmopolitan dan bersifat sinantropik yang artinya lalat ini mempunyai hubungan ketergantungan yang tinggi dengan manusia karena zat-zat makanan yang dibutuhkan lalat sebagian besar ada pada makanan manusia. Lalat lebih aktif pada tempat yang terlindung dari cahaya daripada tempat yang langsung terkena cahaya matahari. Penyebaran yang luas dari kedua jenis lalat ini dimungkinkan karena daya adaptasinya yang tinggi. Kepadatan lalat di suatu daerah, sangat dipengaruhi oleh: tempat perindukan, cahaya matahari, temperatur dan kelembaban. Kepadatan lalat akan tinggi jika temperatur antara 20-25 C. Populasi menurun apabila temperatur > 450C dan < 100C. Pada temperatur yang sangat rendah, lalat tetap hidup dalam kondisi dorman pada stadium dewasa atau pupa. Kebiasaan & distribusi lalat pada Siang hari akan berada di sekitar tempat makan & tempat perindukan di mana juga terjadi perkawinan & istirahat. Penyebaran dipengaruhi oleh reaksinya terhadap cahaya, temperatur, kelembaban, textur dan warna permukaan yang disenangi untuk istirahat. Aktivitas lalat: bertelur, berkawin, makan dan terbang, terhenti pada temperature di bawah 15oC. Lalat umumnya aktif pada kelembaban udara yang rendah. Pada temperatur di atas 20oC lalat akan berada di luar rumah, di tempat yang ternaung dekat dengan udara bebas. Pada waktu tidak makan lalat akan istirahat pada permukaan horisontal atau pada kabel yang membentang atau tempat-tempat yang vertikal dan pada atap di dalam rumah khususnya malam hari.
2.      Ketahanan Hidup
Tergantung pada musim dan temperatur: Lalat dewasa hidup 2-4 minggu pada musim panas dan lebih lama pada musim dingin yaitu bisa mencapai 3 bulan, mereka paling aktif pada suhu 32,50C dan akan mati pada suhu 450C. Lalat melampaui musim dingin (over wintering) sebagai lalat dewasa, dan berkembang biak di tempat-tempat yang relatif terlindung seperti kandang ternak dan gudang-gudang. Pada stadium telur biasanya tidak tahan terhadap suhu yang ekstrim dan akan mati bila berada dibawah 50C dan di atas 400C. Lamanya tahap instar larva sangat tergantung pada suhu dan kelembaban lingkungan.Pada suhu -20C larva dapat bertahan beberapa hari , di bawah suhu 100C larva tidak dapat berkembang menjadi pupa.




E.     Ekologi Tentang Lalat
Dengan memahami ekologi lalat kita dapat menjelaskan peranan lalat sebagai karier penyakit dan dapat pula membantu kita dalam perencanaan pengawasan. Lalat dewasa aktif pada siang hari dan selalu berkelompok. Pada malam hari biasanya istirahat walaupun mereka dapat beradaptasi dengan cahaya lampu yang lebih terang.
1.       Tempat peristirahatan
Pada Waktu hinggap lalat mengeluarkan ludah dan tinja yang membentuk titik hitam. Tanda-tanda ini merupakan hal yang penting untuk mengenal tempat lalat istirahat. Pada siang hari lalat tidak makan tetapi beristirahat di lantai dinding, langit-langit, rumputrumput dan tempat yang sejuk. Juga menyukai tempat yang berdekatan dengan makanan dan tempat berbiaknya, serta terlindung dari angin dan matahari yang terik. Didalam rumah, lalat istirahat pada pinggiran tempat makanan, kawat listik dan tidak aktif pada malam hari. Tempat hinggap lalat biasanya pada ketinggian tidak lebih dari 5 (lima) meter.
2.        Fluktuasi Jumlah lalat
Lalat merupakan serangga yang bersifat fototropik yaitu menyukai cahaya. Pada malam hari tidak aktif, namun dapat aktif dengan adanya sinar buatan. Efek sinar pada lalat tergantung sepenuhnya pada temperatur dan kelembaban jumlah lalat akan meningkat jumlahnya pada temperatur 20 º C – 25 º C dan akan berkurang jumlahnya pada temperatur < 10 º C atau > 49 º C serta kelembaban yang optimum 90 %.

F.      Teknik Pengendalian dan Pemberantasan Lalat
1.      Perbaikan Hygiene dan sanitasi lingkungan
Perbaikan Hygiene dan sanitasi lingkungan merupakan langkah awal yang sangat penting dalam usaha menganggulangi berkembangnya populasi lalat baik dalam lingkungan peternakan maupun pemukiman. Selain murah dan sederhana juga efektif serta tidak menimbulkan efek-efek samping yang membahayakan lingkungan (Sitanggang, 2001).
a.       Mengurangi atau menghilangkan tempat perndukan lalat.
b.      Kandang ternak
c.       Kandang harus dapat dibersihkan
d.      Lantai kandang harus kedap air, dan dapat disiram setiap hari
e.       Terdapat saluran air limbah yang baik (HAKLI, 2009).
2.      Kandang ayam dan burung
a.       Bila burung/ternak berada dalam kandang dan kotorannya terkumpul disangkar, kadang perlu dilengkapi dengan ventilasi yang cukup agar kandang tetap kering.
b.       Kotoran burung/ternak dapat dikeluarkan dari sangkar dan secara interval (disarankan setiap hari) dibersihkan (DEPKES, 1992).
3.      Timbunan kotoran ternak
Timbunan pupuk kandang yang dibuang ke permukaan tanah pada temperatur tertentu dapat menjadi tempat perindukan lalat. Sebagai upaya pengendalian, kotoran sebaiknya diletakkan pada permukaan yang keras/semen yang dikelilingi selokan agar lalat dan pupa tidak bermigrasi ke tanah sekelilingnya. Pola penumpukan kotoran sacara menggunung dapat dilakukan untuk mengurangi luas permukaan. Tumpukan kotoran sebaiknya ditutupi plastik untuk mencegah lalat meletakkan telurnya dan dapat membunuh larva karena panas yang diproduksi oleh tumpukan kotoranakibat proses fermentasi (HAKLI, 2009).
4.       Kotoran Manusia
Jamban yang memenuhi syarat kesehatan sangat diperlukan guna mencegah perkembangbiakan lalat pada tempat-tempat pembuangan faces. Jamban setidaknya menggunakan model leher angsa dan berseptic tank. Selain itu, pada pipa ventilasi perlu dipasang kawat kasa guna mencegah lalat masuk dan berkembang biak di dalam septic tank (HAKLI, 2009).
Daerah-daerah pengungsian merupakan daerah yang sangat potensial untuk tempat perindukan lalat. Hal ini dikarenakan secara umum pada daerah tersebut jarang sekali ditemukan jamban-jamban yang memenuhi syarat kesehatan, bahkan banyak diantaranya yang hanya menggunakan lahan terbuka sebagai jamban. Sebaiknya, bila fasilitas jamban tidak ada/tidak sesuai, masyarakat pengungsi dapat melakukan buang air besar pada jarak ± 500 meter dengan arah angin yang tidak mengarah ke dekat tempat perindukan atau timbunan makanan dan 30 meter dari sumber air bersih dengan membuat lubang dan menutupnya secara berlapis agar tidak menimbulkan bau yang dapat merangsang lalat unutk datang dan berkembang biak (DEPKES, 1992).
5.      Sampah basah dan sampah organic
Pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan sampah yang dikelola dengan baik dapat menghilangkan media perindukan lalat. Bila sistem pengumpulan dan pengangkutan sampah dari rumah tidak ada, sampah dapat dibakar atau dibuang ke lubang sampah, dengan catatan bahwa setiap minggu sampah yang dibuang ke lubang sampah harus ditutup dengan tanah. Dalam cuaca panas, larva lalat ditempat sampah dapat menjadi pupa hanya dalam waktu 3 –4 hari (DEPKES, 1992).
Membersihkan sisa-sisa sampah yang ada di dasar tong sampah merupakan hal yang penting karena lalat masih dapat berkembang biak pada tempat tersebut. Pembuangan sampah akhir pada TPA yang terbuka perlu dilakukan dengan pemadatan sampah terlebih dahulu dan ditutup setiap hari dengan tanah setebal 15 – 30 cm. Hal ini bertujuan untuk penghilangan tempat perkembang biakan lalat. Lokasi tempat pembuangan akhir sampah adalah harus berjarak beberapa kilometer dari rumah penduduk(DEPKES, 1992).

G.    Fly Grill
Fly Grill adalah alat yang digunakan untuk mengukur kepadatan lalat, membutuhkan waktu permenit atau perdetik. Buat warna putih pembuangan sampah atau pembuangan air 3-5 pengamanan pengembangan( < 50 Padat) (>20 sangat Padat.) pengendalian = (Lem, Lilin,kipas Air). Pengendalian alat kimia : brinting atau penyemprotan.
Lalat menyukai tempat - tempat yang berbau menyengat dan tempat yang cukup lembab. Sedangkanm warnayang disukai lalat adalah warna natural seperti warna coklat pada batang kayu dan warna hijau pada buah atau sayur segar.



BAB III
METODE PRAKTIKUM
A.    Jenis Praktikum
Adapun jenis praktikum yang dilakukan adalah Pengukuran Kepadatan Lalat dengan menggunakan Fly Grill.

B.     Waktu dan Lokasi
Hari / Tanggal       : Selasa,11 Mei 2015
Waktu                   : 13.00 - Selesai
Tempat                  : Kampus Kesehatan Lingkungan (Sekitar Perumahan Dosen)

C.     Alat
-          Alat
1.      Fly Grill
2.      Hand Counter
3.      Hygrothermometer (Suhu dan Kelembaban)
4.      Stopwatch
5.      Kamera
6.      ATK

D.    Prosedur Kerja
1.      Siapkan alat yang akan digunakan
2.      Letakkan Fly Grill secara mendatar pada tempat yang sudah ditentukan
3.      Pasang hygrothermometer dekat dengan Fly Grill
4.      Kemudian hitung berapa jumlah lalat yang hinggap pada fly grill tersebut
5.      Hitung selama 30 detik dengan menggunakan hand counter
6.      Setelah selesai pindah ke tempat yang lain dengan jarak ± 10 meter dan lakukan selama 10 kali pengukuran
7.      Setelah 30 detik pertama, catat hasil dan jumlah lalat yang hinggap pada fly grill tersebut pada kertas blanko yang telah disediakan, dan lakukan hal tersebut sebanyak 10 kali perhitungan
8.      Kemudian ambil sebanyak 5 hasl perhitungan kepadatan lalat tertinggi, kemudian dirata-ratakan
9.      Hasil rata-rata adalah angka kepadatan lalat dengan satuan ekor per block grill
10.  Untuk kelengkapan informasi, perlu juga diadakan pengukuran suhu dan kelemababan untuk menghasilkan pengukuran yang optimal.















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil
Dari praktikum pengukuran tingkat kepadatan lalat maka hasil yang kami dapatkan adalah sebagai  berikut :


NO

TITIK / LOKASI
HASIL PENGUKURAN
KET


1

2

3

4

5

6

7

8

9

10
1
TITIK 1

1

3

2


5

4

3

3

2

2

1

2
TKTIK 2

2

4

3

1

3

4

1

1

2

1

3
TITIK 3

3

4


1

2

4

1

3

2

5

1


Keterangan      :
Jadi Nilai Rata – Rata  Tingkat Kepadatan Lalat  yang ada Di Sekitar Perumahan Dosen Adalah  4 ekor / Block Grill

Titik 1                       = 3.6  
Titik 2                       = 3.2
Titik 3                       = 3.8  
Rata – Rata           = 3.53
B.     Pembahasan
Berdasarkan praktikum tentang Pengukuran Kepadatan Lalat yang kami lakukan dapat dianlisa bahwa lalat yang berada di sekitar Perumahan Dosen rata –rata 4 ekor / block grill jadi lalat tersebut masuk dalam tingkat kepadatan lalat yang sedang. Lalat berada disekitar Perumahan Dosen karena kondisi lingkungan yang tidak bersih karena dekat dengan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) sehingga lalat suka berkerumun disitu.
Disamping dekat dengan tempat sampah sekitar perumahan Dosen juga kondisi lingkungannya dalam keadaan yang lembab dimana kelembaban tersebut adalah ±60% karena lalat itu suka berada di tempat yang lembab.
Karena lalat di sekitar Perumahan Dosen tergolong dalam tingkat kepadatan yang sedang maka perlu dilakukan cara pengendalian untuk mengurangi tingkat kepadatan lalat adalah sebagai berikut :
1.      Perbaikan Hygiene dan sanitasi lingkungan
Perbaikan Hygiene dan sanitasi lingkungan merupakan langkah awal yang sangat penting dalam usaha menganggulangi berkembangnya populasi lalat baik dalam lingkungan peternakan maupun pemukiman. Selain murah dan sederhana juga efektif serta tidak menimbulkan efek-efek samping yang membahayakan lingkungan.
a.       Mengurangi atau menghilangkan tempat perndukan lalat
b.      Kandang ternak
c.       Kandang harus dapat dibersihkan
d.      Lantai kandang harus kedap air, dan dapat disiram setiap hari
e.       Terdapat saluran air limbah yang baik (HAKLI, 2009).
2.      Kandang ayam dan burung
a.       Bila burung/ternak berada dalam kandang dan kotorannya terkumpul disangkar, kadang perlu dilengkapi dengan ventilasi yang cukup agar kandang tetap kering.
b.      Kotoran burung/ternak dapat dikeluarkan dari sangkar dan secara interval (disarankan setiap hari) dibersihkan (DEPKES, 1992).

3.      Timbunan kotoran ternak
Timbunan pupuk kandang yang dibuang ke permukaan tanah pada temperatur tertentu dapat menjadi tempat perindukan lalat. Sebagai upaya pengendalian, kotoran sebaiknya diletakkan pada permukaan yang keras/semen yang dikelilingi selokan agar lalat dan pupa tidak bermigrasi ke tanah sekelilingnya. Pola penumpukan kotoran sacara menggunung dapat dilakukan untuk mengurangi luas permukaan. Tumpukan kotoran sebaiknya ditutupi plastik untuk mencegah lalat meletakkan telurnya dan dapat membunuh larva karena panas yang diproduksi oleh tumpukan kotoranakibat proses fermentasi (HAKLI, 2009).
4.      Kotoran Manusia
Jamban yang memenuhi syarat kesehatan sangat diperlukan guna mencegah perkembangbiakan lalat pada tempat-tempat pembuangan faces. Jamban setidaknya menggunakan model leher angsa dan berseptic tank. Selain itu, pada pipa ventilasi perlu dipasang kawat kasa guna mencegah lalat masuk dan berkembang biak di dalam septic tank (HAKLI, 2009).
5.      Sampah basah dan sampah organic
Pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan sampah yang dikelola dengan baik dapat menghilangkan media perindukan lalat. Bila sistem pengumpulan dan pengangkutan sampah dari rumah tidak ada, sampah dapat dibakar atau dibuang ke lubang sampah, dengan catatan bahwa setiap minggu sampah yang dibuang ke lubang sampah harus ditutup dengan tanah. Dalam cuaca panas, larva lalat ditempat sampah dapat menjadi pupa hanya dalam waktu 3 –4 hari (DEPKES, 1992).
Membersihkan sisa-sisa sampah yang ada di dasar tong sampah merupakan hal yang penting karena lalat masih dapat berkembang biak pada tempat tersebut. Pembuangan sampah akhir pada TPA yang terbuka perlu dilakukan dengan pemadatan sampah terlebih dahulu dan ditutup setiap hari dengan tanah setebal 15 – 30 cm. Hal ini bertujuan untuk penghilangan tempat perkembang biakan lalat. Lokasi tempat pembuangan akhir sampah adalah harus berjarak beberapa kilometer dari rumah penduduk(DEPKES, 1992).
BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari praktikum Pengukuran Tingkat Kepadatan Lalat yang dilakukan di sekitar Perumahan Dosen maka dapat disimpulkan bahwa cara pengukuran kepadatan lalat yaitu letakkan Fly Grill pada tempat yang sudah ditentukan sebagai tempat pengukuran, kemudian hitung jumlah lalat yang hinggap pada block grill dan hitung dalam waktu 30 detik dengan menggunakan hand counter, lakukan pengukuran selama 10 kali.
Dan jumlah rata – rata tingkat kepadatan lalat yang ada disekitar perumahan dosen adalah 4 ekor / block grill dan tergolong dalam tingkat kepadatan sedang.
Maka dari itu cara pengendalian lalat adalah
1.      Perbaikan Hygiene dan sanitasi lingkungan
Perbaikan Hygiene dan sanitasi lingkungan merupakan langkah awal yang sangat penting dalam usaha menanggulangi berkembangnya populasi lalat baik dalam lingkungan peternakan maupun pemukiman.
a.       Mengurangi atau menghilangkan tempat perndukan lalat
b.      Kandang ternak
c.       Kandang harus dapat dibersihkan
d.      Lantai kandang harus kedap air, dan dapat disiram setiap hari
e.       Terdapat saluran air limbah yang baik (HAKLI, 2009).
2.      Kandang ayam dan burung
a.       Bila burung/ternak berada dalam kandang dan kotorannya terkumpul disangkar, kadang perlu dilengkapi dengan ventilasi yang cukup agar kandang tetap kering.
b.      Kotoran burung/ternak dapat dikeluarkan dari sangkar dan secara interval (disarankan setiap hari) dibersihkan (DEPKES, 1992).
3.      Timbunan kotoran ternak
Timbunan pupuk kandang yang dibuang ke permukaan tanah pada temperatur tertentu dapat menjadi tempat perindukan lalat. Sebagai upaya pengendalian, kotoran sebaiknya diletakkan pada permukaan yang keras/semen yang dikelilingi selokan agar lalat dan pupa tidak bermigrasi ke tanah sekelilingnya. Pola penumpukan kotoran sacara menggunung dapat dilakukan untuk mengurangi luas permukaan. Tumpukan kotoran sebaiknya ditutupi plastik untuk mencegah lalat meletakkan telurnya dan dapat membunuh larva karena panas yang diproduksi oleh tumpukan kotoranakibat proses fermentasi (HAKLI, 2009).
4.      Kotoran Manusia
Jamban yang memenuhi syarat kesehatan sangat diperlukan guna mencegah perkembangbiakan lalat pada tempat-tempat pembuangan faces. Jamban setidaknya menggunakan model leher angsa dan berseptic tank. Selain itu, pada pipa ventilasi perlu dipasang kawat kasa guna mencegah lalat masuk dan berkembang biak di dalam septic tank (HAKLI, 2009).
5.      Sampah basah dan sampah organic
Pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan sampah yang dikelola dengan baik dapat menghilangkan media perindukan lalat. Bila sistem pengumpulan dan pengangkutan sampah dari rumah tidak ada, sampah dapat dibakar atau dibuang ke lubang sampah, dengan catatan bahwa setiap minggu sampah yang dibuang ke lubang sampah harus ditutup dengan tanah. Dalam cuaca panas, larva lalat ditempat sampah dapat menjadi pupa hanya dalam waktu 3 –4 hari (DEPKES, 1992).

B.     Saran
Dari hasil praktikum Pengukuran Tingkat Kepadatan Lalat maka saran kami adalah dalam pengukuran tersebut hasil yang didapatkan yaitu rata – rata 4 ekor / block grill hal ini dipengaruhi karena disekitar perumahan dosen kondisi lingkungan yang tidak bersih sehingga lalat banyak, sebaiknya lingkungan harus bersih terutama tempat sampah harus dalam kondisi tertutup agar lalat tidak ada.

DAFTAR PUSTAKA
Darjono. 2006. CP-bulletin Service: Kontrol Lalat dalam Mencegah Penyebaran Penyakit. Edisi Februari 2006 nomor 74/tahunVII. POKPHAND
Departemen Kesehatan RI. 1992. Pedoman Tehnis Pengendalian Lalat. Dit. Jen. PPM dan PLP, Depkes RI. Jakarta
HAKLI. 2009. Pengendalian Lalat. http://www.hakli.org. Diakses tanggal 30 Maret 2011
Kartikasari. 2008. Dampak Vektor Lalat Terhadap Kesehatan. Universitas Sumatera Utara. jtptunimus-gdl-s1-2008-kartikasar-521-2-bab1 Diakses tanggal 1 April 2011
Santi, Devi Nuraini. 2001. Manajemen Pengendalian Lalat. Fakultas Kedokteran. Universitas Sumatera Utara. 5 Halaman (Dipublikasikan)
Kusnoputranto, 2000. Pengendalian Vektor Lalat. (Diakses tanggal 12 Juni 2015)